Tentang Gudang Art

/Tentang Gudang Art
Tentang Gudang Art2017-10-27T08:47:07+00:00

300SEJARAH SINGKAT :

Gudang Art Design berdiri sekitar tahun 2006 berawal dari perkenalan dengan para seniman dan pengrajin yang kemudian mencoba untuk bergabung dan membuat aneka kerajinandari logam dan kaca khusus untuk kalangan menengah kebawah walaupun produk kami masih dalam skala kecil produk tersebut sudah bisa di nikmati.Kendala dan hambatan pada waktu itu adalah di bidang permodalan yang cendrung masih sangat minim, modal kami pada saat itu adalah kepercayaan dan semangat untuk tetap menghasilkan sebuah karya seni.

Seiring berjalannya waktu pada tahun 2008 kami mencoba memasarkan produk kerajinan kami secara online lewat jaringan internet konsumen kami yang selalu memberi support dan respon positif terhadap hasil karya kami. Sehingga tidak heran para petinggi Negara pun melirik hasil produk kami. Proyek-proyek yang sudah kami kerjakan pun sudah tersebar ke wilayah Indonesia Baik proyek Bandara, Hotel, Perkantoran, Universitas maupun pada bangunan rumah pribadi.

Beberapa Even Pameran baik dalam dan luar negeri pun sudah kami lalui. Kami selalu kontinyu melakukan perubahan baik model, desain maupun motif yang tentunya di sesuaikan dengan permintaan dan selera pasar.

Untuk saat ini Gudang Art Design sudah mempunyai tenaga tetap 55 orang seniman baik itu seniman logam maupun kaca, angka tersebut bias bertambah yang disesuaikan dengan volume permintaan produk yang di Kerjakan, jaringan produksi Gudang Art Design sudah tersebar di 3 kota yaitu Yogyakarta, Klaten dan Boyolali.

SEKILAS TENTANG PRODUK :

Kerajinan Tembaga, Kuningan dan Aluminium Pada dasarnya, kerajinan tembaga, kuningan dan aluminiumkhususnya di Indonesia sudah ada pada zaman mataram kuno karya seni pada jaman itu berupa peralatan rumah tangga, relief kaligrafi, koin, Logo atau lambang sebuah kerajaan. Gambar, motif dan tema pada umumnya hampir memiliki kesamaan dengan motif-motif relief lain terutama motif pada seni relief ukir. Sehingga saat ini hasil dari Kerajinan Logam ini di gunakan sebagai ornament, logo, lampu hias, furniture, atau souvenir tujuannya untuk menghiasi suatu tempat atau memperindah suatu ruangan, jadi bukan hanya sekedar untuk peralatan rumah tangga saja.Pada umumnya produk hasil ini, baik yang dari tembaga, kuningan maupun aluminium yang beli oleh pihak hotel, bandara, perkantoran, hunian rumah tinggal hanya semata-mata untuk melengkapi dan mempercantik interior maupun exterior dan terkadang ada pula yang dibeli oleh perorangan maupun diekspor keluar negeri. Harga hasil kerajinan handicraft ini relatif murah dan terjangkau karena dikerjakan oleh para pengrajin atau seniman logam untuk harganya tentunya dari ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya, di bandingkan dengan hasil kerajinan logam di luar negeri tentu harganya lebih mahal. Produk dalam negeri hasil karya anak bangsa jauh lebih murah karena bahan baku yang kita pakai mudah untuk di dapat.

Kerajinan Kaca Patri & Kaca InlayDitinjau dari sejarahnya, Kerajinan Kaca Patri merupakan ornament arsitektur yang berasal dari Eropa.Penggunaan kaca patri warna pada jendela terutama untuk rumah ibadah (gereja) dimulai pada pertengahan abad ke-12.Pada zaman Gotik inilah, seni kacapatri ini berada pada puncak kejayaannya. Jauh sebelumnya, teknik pewarnaan pada kaca sudah dikenal di Mesir dan Mesopotamia pada millenium ketiga sebelum masehi.Yang kemudian berkembang pada masa Romawi.Di Indonesia sebenarnya kita mengenal pula ornament kaca patri ini.Namun, tidak jelas siapa yang membawa seni kaca patri ini ke Indonesia. Menariknya, sampai paruh pertama abad ke-19 kaca termasuk jenis barang mewah dan sangat mahal.Baik di Indonesia maupun di Asia, termasuk China dan Jepang. Dari arsip laporan tahunan VOC (Vereenig de Oost Indische Compagnie) di Batavia untuk kantor pusat di Amsterdam, terdapat beberapa catatan tentang impor barang-barang kaca dari Belanda atau Eropa. Barang-barang kaca itu untuk dijual atau diberikan sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia. Namun, VOC lebih banyak menjual atau memasok kaca ke India, China dan Jepang. Pada 1675 VOC sempat memikirkan untuk mendirikan pabrik kaca di Batavia tetapi rencana itu tidak terwujud. Di Indonesia pun, bahan kaca tetap langka sampai awal abad ke-20, kecuali untuk kalangan terbatas.